Mata[(:)]Dunia($)


Kajian Qalbu: Tidak Menilai Diri dan Kemampuan Secara Tepat

Setan mendatangi manusia untuk menjadikannya merasa sempurna, dengan berkata, ‘Kamu lebih baik dari orang lain. Kamu melakukan shalat, sementara banyak orang lain yang tidak shalat. Kamu shaum, sedangkan orang lain banyak yang tidak shaum’. Kamu diarahkan setan agar memperhatikan orang-orang yang dibawahmu dalam beramal shalih, untuk mencegahmu dari beramal lebih baik..karena kamu sudah melihat dirimu sebagai manusia paling utama!

Kesempurnaan Semu

Setan berkata lagi, ‘Kamu akan mendapat syafa’at (pertolongan) dari amalmu!’ kemudian disibukkannya orang itu dengan amal-amal yang mubah, sehingga beristirahat sejenak dari amal-amal shalih. ‘Kamu orang sibuk, kamu sudah lebih baik dari orang lain!’ Demikianlah agar kamu senantiasa santai dan tidak bersungguh-sungguh menambah amal!

Padahal yang dituntut dari kita sebaliknya, yaitu kamu perhatikan orang yang shaum sunat Senin dan Kamis ketika kamu tidak melakukannya, atau perhatikan si Fulan yang melakukan amal-amal sunat ketika kamu belum melakukannya. Inilah yang dituntut darimu, yaitu melihat orang yang lebih darimu dalam amal shalih.

Setan juga membuat seseorang tergelincir dalam menilai dirinya dengan dua jalan yaitu pandangan ujub dan menipu diri & tawadhu dan memandang dirinya hina dan rendah.

Pandangan Ujub dan Menipu Diri

Yaitu setan mendorong manusia melihat dirinya secara ujub (memuji diri), sehingga dia terkena ghurur (menipu diri) dan takabur. Setan berkata, ‘Kamu sudah mengerjakan ini dan itu, lihatlah kamu, beramal dan beramal..’ Maka berubahlah orang itu menjadi takabur, dan tertipu oleh dirinya, akibatnya dia merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Dia akan menolak pula untuk rujuk dari kesalahannya. Dia menolak pula duduk di majelis ilmu untuk belajar dari orang lain.

Pernah aku temui di sebagian halaqah ilmu, ketika seseorang keliru dalam (belajar) membaca Al Qur’an, dia lebih memilih untuk berhenti dari halaqahnya daripada meneruskan keikutsertaannya dalam halaqah belajar membaca sampai benar, semata-mata agar tidak berada dalam keadaan malu di hadapan manusia karena masih belajar membaca. Akhirnya seumur hidup dia tidak belajar. Padahal kalau dia mau merenung sejenak, akan dia ketahui bahwa orang yang bacaannya baik sekarang ini, dahulunya pun seperti dia tidak begitu baik membacanya, kemudian ia belajar dan berhasil. Kalau sifat ini dituruti, maka ketidakmauan belajar lagi ini akan terbawa seumur hidupnya, sebagaimana kata penyair:

Bagaimana pun keberadaan suatu sifat pada seseorang walau disangkanya tersembunyi dari manusia, pasti terbongkar juga

Dan demikianlah seseorang hendaknya melatih diri untuk menghilangkan adat buruknya, dan bukan justru menyembunyikannya!

Tawadhu dan Memandang Dirinya Hina dan Rendah

Disini setan berkata padamu, ‘Kamu harus tawadhu. Siapa yang tawadhu karena Alloh, niscaya akan ditinggikan-Nya. Kamu tidak sepadan untuk perkara ini! urusan ini hanya untuk orang berilmu tinggi saja!’, padahal maksudnya setan ingin menjauhkan peranmu dalam tugas dakwahmu. Ini dari bab tawadhu, kamu akhirnya merendahkan dirimu sampai derajat dimana kamu merasa tidak berguna pada kemampuanmu yang seharusnya kamu tampilkan, karena kita akan ditanya atas segala kemampuan dan kekuatan kita. Kamu harus mengemukakan kemampuanmu itu, karena kalau kamu tidak gunakan kemampuanmu pasti kamu dihisap atasnya. Ini pada hakekatnya bukan tawadhu, tapi lari dari tanggung jawab, lari dari menunaikan kewajiban. Akan tetapi setan berkata padanya, ‘Tinggalkanlah bidang itu untuk orang yang lebih baik darimu! Dakwah adalah amal mulia, amal bagi orang jenius yang amat langka dan yang mendalam ilmunya’.

Setan mendatanginya juga dengan pemahaman yang mendukung alasan tadi, bahwa manusia kadang-kadang keliru ketika menunaikan tugas dakwahnya, maka kekeliruan itu digeneralisasi agar dia enggan bertugas lagi. Generalisasi seperti ini adalah pintu dan pekerjaan setan.

Kadang-kadang setanpun mendorong manusia merendahkan dirinya, dengan mengacaukan akalnya untuk terus menerus berfikir, ‘Apa artinya diri saya dibanding Syaikh ini? Apalah artinya diriku dibanding orang alim ini?’ Dimandulkannya akalnya sehingga tidak berfikir kecuali dengan fikiran Syaikhnya, dan hanya menerapkan perkataan Syaikhnya semata. Jadilah Syaikhnya yang paling benar, dan yang lain salah. Mulailah dia mengagungkan manusia dan mengkultuskannya.

Padahal pokok bagi kita mengembalikan semua perkara pada syariat Alloh, dan orang yang di depanmu itu masih mungkin keliru. Karenanya semua perkataan manusia haru ditimbang dengan Kalamullah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alai wa sallam. Apa yang sesuai kita terima, sedangkan yang bertentangan dengan keduanya kita tolak.

(Sumber Rujukan: Madaakhilusy Syaithaan ‘ala Ash Shalihin, oleh Dr Abdullah Al Khaathir )

Disalin dari: Rasyid Mubarok Blogs dan sumber artikel dari Media Muslim Info


Kantunkeun Pairan so far
Tunda talatah



Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s



%d bloggers like this: